Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Kumpulan Puisi Subagio Sastrowardoyo


Puisi Subagio Sastrowardoyo -Kampung


Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena hawa di sini sudah pengap oleh
pikiran-pikiran beku.
Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
di mana setiap orang ingin bikin peraturan
mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan
daftar diri di kemantren.
Di mana setiap orang ingin jadi hakim
dan berbincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai.

Di mana setiap tukang jamu disambut dengan hangat
dengan perhatian dan tawanya.
Di mana ocehan di jalan lebih berharga
dari renungan tenang di kamar.
Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.
Kalau aku pergi ke luar negeri, dik
karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.

Puisi Subagio Sastrowardoyo -Pidato Di Kubur Orang Ia terlalu baik buat dunia ini. Ketika gerombolan mendobrak pintu Dan menjarah miliknya Ia tinggal diam dan tidak mengadakan perlawanan. Ketika gerombolan memukul muka Dan mendopak dadanya Ia tinggal diam dan tidak menanti pembalasan. Ketika gerombolan menculik istri Dan memperkosa anak gadisnya
Ia tinggal diam dan tidak memendam kebencian. Ketika gerombolan membakar rumahnya Dan menembak kepalanya Ia tinggal diam dan tidak menguvapkan penyesalan. Ia terlalu baik buat dunia ini.


GENESIS


pembuat bonekayang jarang bicaradan yang tinggal agak jauh dari kampungtelah membuat patungdari lilinserupa dia sendiridengan tubuh, tangan dan kaki duaketika dihembusnya napas di ubuntelah menyala apitidak di kepalatapi di dada--aku cinta--kata pembuat bonekabaru itu ia mengeluarkan katadan api itutelah membikin ciptaan itu abadiketika habis terbakar lilin,lihat, api itu terus menyala


HAIKU


malam rebahdi punggungsepikugigir gunungsusut di kacahari makin surutdan bibir habis kata:dinda, di mana, siapatangan terkepalterhenyak di meja

JENDERAL LU SHUN


Jenderal Lu Shun kewalahan. Ia tidak dapat menyelesaikan puisinya. Ia baru menulis dua dari empat baris pantun Cina, tetapi fantasinya seperti tersekat dalam kata-kata kosong tak berarti.Maka ia keluar dari tendanya dan memerintahkan perwiranya mengumpulkan bala tentaranya."Kita serang dusun itu di lembah dan bunuh penduduknya."Perwira itu masih mencoba mengingatkannya:"Tetapi Jenderal, ini malam hari dan orang tak boleh berperang waktu musuh sedang tidur. Hanya perampok dan pengecut yang menyerang musuh di malam hari.""Aku butuhkan ilham," seru Jenderal Lu Shun, "dan aku tak peduli apa siang atau malam. Aku butuhkan kebengisan untuk menulis puisi."Kemudian ia naik kudanya yang beringas dan mendahului pasukan-pasukannya menyerbu ke lembah. Diayunkan pedang dan dicincang penduduk dusun yang tidak berjaga, sehingga puluhan laki-laki, perempuan dan anak-anak terbunuh oleh tangannya. Ia sungguh menikmati perbuatan itu, dan sehabis melihat dengan gairah darah mengalir dan tubuh bergelimpangan di sekelilingnya, ia kembali ke tendanya. "Jangan aku diusik sementara ini," pesannya kepada seluruh bala tentaranya. Didalam keheningan malam ia kemudian menulis puisinya.Ia menulis tentang langit dan mega, tentang pohon bambu yang merenung di pinggir telaga. Burung bangau putih mengepakkan sayapnya sesekali di tengah alam yang sunyi. Suasana hening itu melambangkan cintanya kepada seorang putri dan rindunya kepada dewa yang bersemayam di atas batu karang yang tinggi.Itu semua ditulis dalam pantun Cina yang empat baris panjangnya.


KATA


Asal mula adalah kataJagat tersusun dari kataDi balik itu hanyaruang kosong dan angin pagiKita takut kepada momok karena kataKita cinta kepada bumi karena kataKita percaya kepada Tuhan karena kataNasib terperangkap dalam kataKarena itu akubersembunyi di belakang kataDan menenggelamkandiri tanpa sisa


KEHARUAN


Aku tak terharu lagisejak bapak tak menciumku di ubun.Aku tak terharu lagisejak perselisihan tak selesai dengan ampun.Keharuan menawanktika Bung Karno bersama rakyatteriak "Merdeka" 17 kali.Keharuan menawanketika pasukan gerilya masuk Jogjasudah kita rebut kembali.Aku rindu keharuanwaktu hujan membasahi bumisehabis kering sebulan.Aku rindu keharuanwaktu bendera dwiwarnaberkibar di taman pahlawanAku ingin terharumelihat garis lengkung bertemu di ujung.Aku ingin terharumelihat dua tangan damai berhubungKita manusia perasa yang lekas terharuPustaka dan Budaja,

Th III, No. 9,

1962

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

KUBU


Bagaimana akan bergembira kalau pada detik iniada bayi mati kelaparan atau seorang istribunuh diri karena sepi atau setengah rakyat terserangwabah sakit - barangkali di dekat siniatau jauh di kampung orang,Tak ada alasan untuk bergembira selama masihada orang menangis di hati atau berteriak serakminta merdeka sebagai manusia yang terhormat dan berpribadi -barangkali di dekat sini atau jauh di kampung orang.Inilah saatnya untuk berdiam diri dan berdoauntuk dunia yang lebih bahagia atau menyiapkan senjatadekat dinding kubu dan menanti.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

6 komentar:

irenelydia mengatakan...

terimakasih atas infonya tentang pengarang dan isi puisi ini

Hetty Peggy Afriliaa mengatakan...

lucu... :)

Titi Wijayanti mengatakan...

Sama-sama...
Semoga bermanfaat

Titi Wijayanti mengatakan...

makasih :))

Anonim mengatakan...

Terimakasih Atas Informasinya Ya.......

hermawan subagyo mengatakan...

punya buku 2 nya g y??

Poskan Komentar